Monday, 9 January 2017

Kuliah Di Luar Negeri?


Study Abroad?

Hey guys, wish you are having a wonderful day!

Pernahkah kalian terpikir tentang bersekolah diluar negeri?

Okay, sepertinya hampir setiap saat ketika melihat ke wallpaper laptop ku dengan bangunan-bangunan megah khas eropa, rasanya seperti rasa ingin pergi ke sana semakin kuat..

Ohmfg!

Menurut data tahun 2015, jumlah pelajar dari Indonesia yang meneruskan pendidikan (kuliah) di luar negeri semakin meningkat dari tahun ke tahun. 

 “Berbeda dengan belasan tahun lalu, saat ini siapa saja bisa mewujudkan impian bersekolah di luar negeri,” ujar Marketing & Public Relations Manager, UniSadhuGuna International Education, Aimee Sukesna, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Selasa (24/3/2015).

data ini sepertinya masuk akal deh, apalagi melihat situasi sekarang yang Beasiswa benar-benar dikampanyekan dengan giat dan tersedia dimana-mana, baik itu beasiswa dari pemerintah Indonesia ataupun dari pemerintah negara tujuan.


Huuhh, bisakah?

Pendidikan dengan fasilitas lengkap, kurikulum standart internasional, lingkungan baru, budaya baru, pergaulan internasional dan lain-lain. Aku rasa tidak ada yang akan menolak jika mendapatkan tawaran kuliah di luar negeri. Atau ada yang benar-benar tidak mau sekolah diluar negeri? Well, jika  Ya, pastilah ada alasan tertentu.


Pada faktanya, orang Indonesia yang pergi ke luar negeri dalam rangka menuntut ilmu bukanlah baru terjadi tahun-tahun belakangan. Siapa yang tidak kenal Pak B. J. Habibie? Beliau seperti role-model studi abroad, khususnya ke Jerman. Mohammad Hatta juga sudah ke Belanda pada tahun 1920-an untuk studi, dan bukan termasuk gelombang pertama, karena pada saat itu sudah banyak orang Indonesia datang ke Eropa (entah untuk bekerja, studi  atau urusan lain). 

Jadi, sebenarnya kuliah diluar negeri is not a new thang…

Pernah dengar kan PPI? Wihh, kayaknya organisasi ini paling keren deh. Selain memperkenalkan kebudayaan Indonesia lewat berbagai kegiatan, tetapi juga sering mengajak adik-adik (seperti aku)  untuk ikut gabung sama ribuan mahasiswa lain di luar negeri. But, honestly bukan PPI lah atau Habibie yang menginspirasi ku untuk kuliah di luar negeri.


Sekarang ini aku masih dalam perkuliahan untuk sarjana, dan kira-kira 2018 sudah bisa kelar dan dapat ijazah. Setelah itu? I don’t have any idea guys…. Blankk


Selalu pikiran ku kalau menerawang hal apa yang akan ku lakukan setelah sarjana adalah Kuliah Lagi. 

Iya, aku memang berpikir kerja (kantoran) adalah pilihan terakhir dari semuanya. Mengapa? karena menurut ku menjadi  seorang pegawai  bukan panggilan jiwaku, sangat membosankan harus bangun pagi-pagi hanya untuk memakai seragam  kantor dan menunggu gajian setiap bulan, juga hanya untuk menabung untuk traveling di akhir pekan atau lebih parah – beli kendaraan.

Setiap ditanya mau kerja dimana setelah lulus, jawabanku “No  Idea”. Menurutku meningkatkan pendidikan dan wawasan, serta tentu Curriculum Vitae hehehe dengan studi ke luar negeri akan memudahkan mencari pekerjaan atau ‘berbuat sesuatu’.


Memang tidak ada yang bisa menjamin setelah lulus, kita akan kerja dimana. Eh katanya banyak loh yang lulus dari luar negeri tapi nganggur, ya mungkin juga ini  berkaitan dengan soft-skill. Tapi setidaknya, pengalaman selama beberapa tahun di negara asing pastilah memberikan dampak positive bagi pribadi kita. Terlebih cara pandang kita akan dunia menjadi lebih luas. Aku secara  pribadi, sangat teratrik untuk tinggal dan hidup bersama kebudayaan yang tidak ku kenal sebelumnya. Berbaur dengan masyarakatnya, mempelajari masakannya, mempelajari gaya hidup unik dann kebiasaan mereka. It’s a whole new experience guys…



Selain itu, negara maju pastilah memiliki teknologi yang dapat kita pelajar,  entah itu dari segi lingkungan hidup, sosial atau bisnis, dimana bisa kita terapkan juga ketika balik ke Indonesia. Kalau ingin belajar tentang kebudayaan Yunani Kuno, mengapa tidak pergi langsung studi  di Yunani?

Atau ada yang pengen tinggal di daerah "beresiko"? 
seperti di negara yang rawan konflik dan perang? 
itu terserah masing-masing, selama bisa di terima  di kampusnya. Selalu ada hal positif yang bisa diperoleh

Kerja dulu baru lanjut kuliah juga tidak ada salahnya.  Apalagi orang seperti ku  yang masih belum bisa menghasilkan income yang banyak. Meski  sudah banyak scholarship bertebaran dimana-mana,  tapi tetap saja biaya hidup di negara maju tidaklah sedikit, selain itu biaya sewa tempat tinggal juga harus di hitung kalau-kalau tidak dapat asrama. 

Banyak juga contoh awardeee scholarship, menurut cerita mereka, yang kerja di Indonesia dulu selama beberapa waktu, baru mengambil beasiswa ke luar negeri. Nyatanya ada sebagian kampus yang syaratnya harus punya pengalaman kerja dulu. Pilihannya ada dua.


Bicara soal persiapan kuliah di luar negeri, Aku sempat  buka  Hotcourse.com dan ada artikel tentang pertanyaan-pertanyaan wajib dijawab sebelum memutuskan kuliah diluar negeri. Pertanyaan ini akan dinilai oleh pribadi sendiri apakah sudah bisa dan sanggup untuk menapaki pendidikan di negara lain.


1. Berapa lama kamu bisa jauh dari rumah?

Like forever..
Tapi serius, aku sudah hidup dan tinggal bersama orang tua ku 19 tahun lamanya. Dan aku sudah siap untuk keluar sarang. Rindu atau kangen pasti  bakalan ada, tapi tidak akan separah yang kelihatannya. Bertahun-tahun pun aku sudah siap untuk  tidak bertemu dengan orang tua ku  dan keluarga lain.

2. Kota atau desa?

Desa bukan pilihan yang buruk menurutku,  selama akses ke tempat-tempat penting seperti kampus, rumah sakit, toko masih dekat, aku mending di Desa. Desa diluar negeri, apalagi negara maju, juga rasanya memiliki keunikan tersendiri. Aku lebih tertarik tinggal di daerah yang penduduknya tidak terlalu banyak. Suasana desa yang sejuk dan asri  selalu jadi dambaan.

Kota selalu jadi daya tarik bagi ku. Theatre Movie, Festival,  Taman Bermain,  Taman Kota,  Pusat Kota dimalam hari, semuanya menarik untuk di rasakan. Tapi entahlah, apakah  di kota akan seramai yang ku kira? Pasti daerah ini lebih banyak pendatang juga.

 3. Maukah berbagi ruangan?
 
Apa ya namanya di Jerman kalau tempat penginapan mahasiswa yang kayak apartment itu? Ada juga asrama khusus pelajar luar negeri bukan? Aku sebenarnya tidak terlalu  suka berbagi  ruangan dengan orang lain, tapi jikalau hal tersebut memang lebih efisien, maka It’s no  big deal  lah..
Aku sering mikir apa disana juga ada kos-kosan ya?


3. Apa kamu bisa memasak?

Ehm, bisa masak pun  hanya makanan tertentu (gak banyak). Mungkin harus belajar resep masakan lokal  ya? Kebetulan aku juga  suka belajar masak,  jadi  bisalah.

4. Apa saya mengejar minat atau karier?

Ini pertanyaan paling susah. Aku juga belum  tau pasti tentang jurusan yang bisa  diambil, sekarang Aku ngambilnya S1 Sosial Ekonomi  Pertanian, dan S2 pengennya ke literature  dan budaya. Aku minatnya di kesenian atau literature sih. Ekonomi boleh juga, tapi..
Entahlah. Ini pertanyaan yang masih perlu ditentukan jawabannya.


5. Apa pekerjaan yang tersedia?

Oh mungkin ini kayak  kerja part-time gitu ya? Sambil  kuliah di beberapa negara memang bisa ambil kerja  sampingan buat nambah-nambah uang jajan dan sebagainya.
Kalo aku sih pengen ngerasain kerja di daerah lokal  situ. Barista? Clerk di pertokoan ada gak ya? Tapi seandainya ada, aku pengen kerja dibagian restoran. Jadi freelancer di blog dan website juga bisa deh kayaknya.

Lalu, jika benar-benar sudah terjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, apakah lantas sudah langsung siap? 

Tidaklah. Bahkan menurut beberapa forum yang aku ikuti, persiapan untuk  studi ke luar negeri  membutuhkan waktu minimal 1 tahun atau lebih. Tidak heran sih, apalagi dokumen yang perlu disiapkan sangat banyak. Sertifiikat TOEFL? IELTS? Ijazah dalam bahasa inggris? Belum lagi perburuan beasiswa dan mendaftar di kampus tujuan biar dapat LoA. Dari yang kubaca sih, LoA dapatnya berbulan-bulan kemudian (± 6  bulan). 

Oh ya, di  beberapa negara ada yang persyaratannya harus bisa nunjukin seritifikat penguasaan bahasa setempat kayak di Korea,  atau  Jepang, atau  Jerman. Meskipun tidak menutup  kemungkinan ada kelas berbahasa pengantar English.

Berita baiknya, bebepa negara juga menawarkan beasiswa untuk  belajar bahasa negara tersebut selama beberapa waktu (biasanya 1 tahun) sebelum masuk  dalam perkuliahan. Contohnya beasiswa dari  pemerintah China (beneran gak ya?) dan Rusia.   

Tapi guys, bayangin gak? Setelah urusan dokumen kelar dan LoA udah di tangan? Terus tembus Fullbright? Atau LPDP?


Aku pernah ikut seminar LPDP di kota ku, dan dapat banyak masukan dari  pemenang beasiswa LPDP. Kebanyakan ambil Master’s Degree. Dan menurut mereka ya, persiapan untuk studi di negara asing itu bahkan lebih baik dilakukan sejak dini (masih kuliah di S1 atau SMA). Mulai sekarang lebih banyak beri waktu belajar bahasa asing negara tujuan, ikut organisasi masyaarakat atau kampus, ikut penelitian, publish journal ilmiah dan sebagainya. Pokoknya kita harus siapkan persyaratannya mulai  sekarang jika berniat sekolah di luar negeri.
Prosesnya panjang…..
Tapi hasilnya, pasti manis.



Aku yakin kalian pernah lihat buku-buku  tentang kisah inspiratif dari mahasiswa pemenang beasiswa ke luar negeri.

Ada salah satu  quotes yang sangat membuat ku bersemangat setiap kali membacanya.

“There is a Big World out there, overseas…
It would be a shame not to experience it..” J. D.  Andrews

Aku tidak tau bagaimana pemikiran ini muncul dalam benakku, tapi Iya, aku akan ikut gabung dengan ribuan mahasiswa Indonesia lainnya  di luar sana. Mengejar pendidikan dan mengenal lebih dalam budaya-budaya lokal negara lain. How  exciting is that? I need to having this moment…. uhhh
Sampai  disini dulu guys, will be back soon, right here! Bye-bye
BS

Apakah kalian juga ingin studi ke luar negeri? Jika Iya, negara mana yang akan kalian tuju?
Sudahkah memulai Proses Studi ke Luar Negeri kalian? 
Adakah tips untuk bisa kuliah  di luar negeri?
Terima  kasih sudah membaca, tinggalkan komentar kalian dibawah ya :)

3 comments:

  1. aku juga pernah berfikir kayanya asik kalo lanjut kuliah keluar negeri menambah pengalaman dan waasan sama orang orang baru apalagi orang kayak aku yang kadang mulai jenuh dirumah sendiri dari kecil sampe besar main gak pernah jauh dari rumah .. saya doakan semoga cita citanya tercapai kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Dinar, aku paham :" aku juga mainnya dikamar terus hehehe.

      Mungkin bisa coba traveling? tapi iya, kuliah di luar negeri sekarang bukan cuma mimpi, itu nyata. Tinggal melakukan tindakan yang diperlukan.

      Makasih banyak Dinar, komentarnya sangat berarti :)

      Delete
  2. Hahaha, pemikiran lu sama kayak pemikiran gua dulu. Dan jaman gua dulu, belom ada LPDP, nyari beasiswa tuh lebih ribet daripada sekarang. Tapi ya selama ada usaha, pasti ada jalan kok. Gua udah buktiin sendiri bahwa sekolah ke luar negeri itu bukan hal yg mustahil. Banyak hal yg harus lu korbanin kalo lu mau sekolah ke luar negeri, tapi percaya deh, in the end, semua itu akan berbuah manis =)

    Btw gua pernah nulis postingan soal ini, semoga bisa menginspirasi lu :
    http://www.emotionalflutter.com/2014/07/cara-mendapatkan-beasiswa-ke-luar-negeri.html

    ReplyDelete