Wednesday, 1 February 2017

Imlek Di Manado




Hai Guys! Wish you are having a great week.

Kali ini aku akan sharing pengalaman ku berkeliling kawasan Pecinan (China Town) di kota Manado dalam rangka tahun baru Imlek.

Tanggal 28 Januari adalah hari Tahun Baru Imlek 2568 bagi etnis Tionghoa (atau keturunan Tionghoa) di seluruh dunia. Tidak terkecuali di  Indonesia. Karena kebetulan negara kita ini amat sangat lekat budayanya dengan bangsa Tiongkok, serta banyak keturunan Tionghoa yang menjadi  bagian dari masyarakat bangsa ini, maka Hari Imlek juga jadi hari libur Nasional dan di beberapa daerah sangat kental perayaannya.



Nah, karena aku tinggal di kota Manado, yang notabene juga banyak orang keturunan Tionghoa jadi kalau Tahun Baru Imlek itu banyak kegiatan yang diadakan dalam meramaikan hari besar ini. Setau ku, setiap tahunnya akan ada festival Toa Pe Kiong/Cap Go Meh yang di adakan di sekitar kawasan Pecinan. Orang Manado juga sudah sangat familiar dengan acara ini, setiap bulan Februari pasti Toa Pe Kiong akan ramai jadi tontonan warga.


Tahun ini pemerintah kota Manado kayaknya lebih semangat dalam menyambut dan merayakan tahun baru Imlek 2568. Karena mempertimbangkan juga begitu potensialnya pariwisata di Sulawesi Utara, khususnya dalam kebudayaan masyarakatnya, maka semakin hari event yang berkaitan dengan tema kebudayaan lokal semakin gencar dipromosikan. Memang dari pertengahan 2016 sampai awal tahun 2017 ini banyak wisatawan Tiongkok yang datang ke Manado, aku juga bingung kenapa kok makin hari bus-bus pariwisata yang isinya koko-koko dan cici-cici tambah rame di Manado. 


Tahun ini bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2568 plus rombongan turis dari China yang datang berkunjung, banyak agenda dari Pemkot sebagai upaya membangun pariwisata berbasis kebudayaan bagi para pelancong. Salah satunya pas tanggal 28 kemarin, Pemkot bersama Umat Tri Dharma Manado, mengadakan malam pergantian tahun baru China (Lunar New Year!) di kawasan China Town (dan kalau tidak salah ini yang pertama kali) dengan menghiasi jalanan sepanjang kawasan tersebut dan you know, pesta kembang api ala New Year’s Eve. 


Acara dilakukan pas jam 23.00 Wita sampai subuh, dan semua masyarakat Manado diundang untuk ikut merayakannya. Katanya sih sampe ada panggung  musik besar di tengah jalan. Cuma semenjak aku pake ‘Katanya’ berarti aku tidak ikut hehehe, aku mah di kamar, baca Paper Town sampe mewekk.



Ketua Komisi IV DPRD Sulut James Karinda menuturkan, perayaan Imlek di Kota Manado memang sangat cocok dijadikan objek wisata. “Kita sudah cukup lama merayakan Imlek. Tapi sebelumnya kurang jeli melihat jika momen ini harusnya bisa menarik wisatawan. Dan tahun ini kita menggebrak. Apresiasi pada semua pihak yang ikut terlibat,” kata legislator asal dapil Manado ini. (source: Tribun Manado)





Karena tidak ikut dalam New Year’s Eve ala Chinese, aku dengan semangat besoknya (pas hari minggu) pergi sendirian ke China Town untuk lets say pertama kalinya, mengunjungi tempat ibadah Umat Tri Dharma Manado
Lewat sini sih sudah banyak kali, tapi singgah dan exploring sedikit belum pernah. Jadi, there I was, alone on Sunday afternoon, jalan-jalan kayak turis di kota asing hehe. Solo Traveling guyss.

Karena beberapa hari sebelumnya udah googling tempat-tempat mana saja yang akan ku kunjungi, jadi well, aku langsung deh turun dari angkot pas di China Town dan langsung pergi ke spot pertama, yaitu Klenteng.

Kalau kalian mau datang ke sini, bisa sih jalan kaki dari daerah 45, jaraknya lumayan lah buat olahraga. Atau bisa juga naik angkot/mobil dan berhenti di Jl. D.i. Panjaitan, Calaca, Wenang. Daerah ini sudah di kenal luas orang Manado, karena sempat jadi pusat perdagangan.


Secara pasti aku belum tau sih ada berapa jumlah klenteng di Manado, tapi di sekitar kawasan China Town ada 3 yang aku lihat. Klenteng Ban Hin Kiong, Klenteng Kwan Kong sama yang satunya I don’t know, yet.

Ban Hin Kiong jadi tempat pertama yang aku kunjungi. Sebelum sampai sebenarnya hampir tersesat di sekitar China Town. Kalau kalian jalan di daerah ini, kalian kayak masuk labirin gitu, tapi lebih lebar dan tidak terlalu rumit. Cuma karena jalannya banyak pertigaan dan perempatan, dan ditambah ini pertama kalinya aku jalan kaki di daerah itu jadinya agak kikuk. 


Lampion di sepanjang jalan


Mengandalkan naluri (aseek) aku jalan santai aja di tengah-tengah bangunan yang seperti menyambut ku di masing-masing sisi jalan. FYI, bangunan-bangunan yang ada di China Town kebanyakan adalah Rumah Toko (Ruko) yang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Jadi jangan heran kalau suasananya kayak perjalanan waktu ke zaman tersebut.


Too much signs!

Rumah dari Jaman Belanda


Sstt ada pemotretan ternyata




Setelah belok beberapa kali dan bertemu persimpangan yang bikin keringat bercucuran, akhirnya aku bisa sampai di klenteng primadona di kota Manado itu. Sebenarnya dari simpang jalan yang aku lewati meski belum bisa lihat klentengnya, tapi sudah bisa ketebak dari tumbuhnya Pohon khas China (please tell me nama pohon ini apa) dari kejauhan. 
Pohonnya kayak bilang “belok kanan aja dek, tuh Ban Hin Kiong dah nungguin..”


Gerbang masuk Ban Hin Kiong


Ban Hin Kiong adalah klenteng Tri Dharma paling senior di kota Manado. Sudah berdiri sejak tahun 1819, dan menurut sumber yang ku baca,  klenteng ini sudah beberapa kali di pugar. Mulai dari di jatuhkannya Bom tentara Jepang, sampai kebakaran, semuanya sudah dilewati Ban Hin Kiong. Tapi syukurlah sampai generasi ku, klenteng ini masih bisa bertahan (im gonna cry..).

Jika ingin masuk, silahkan langsung masuk saja, karena tidak akan di kenakan tarif. Jangan ragu hehe.








Berhubung aku belum punya DSLR yang bisa diputar-putar lensanya, jadi aku hanya bawa kamera ponsel yang diputar-putar tanganku biar angle nya pas di hati.





Katanya di lantai 2 ada meriam VOC, but unfortunately, aku tidak melihatnya. Tidak ada seorang petugas atau apa di sekitar, semua lagi sembahyang, jadi aku cuma sampai di ruang berdoanya.


 
Lukisan di pintu masuk


biggest candle I've ever seen! lebih besar dari badan ku :"

Looks like in China

 
Klenteng kedua adalah Kwan Kong, yang persis di bangun di  seberang jalan (sampingnya Ban Hin Kiong). Pas keluar dari pintu  masuk Ban Hin Kiong, udah keliatan gerbang dari Kwan Kong ini. Karena pertama kalinya juga sadar kalo ada klenteng lain,  jadi  aku dengan sigap langsung menyeberang ke tetangga sebelah.




Sampai di dalam aku agak merinding sih. Bukan karena takut ada Song Go Kong yang tiba-tiba loncat di atas kepala, tapi lihat patung yang di depan klentengnya, dengan tatapan mantapnya,  aku jadi minder. Bahkan mau foto pun jadi minder :p


Source: Google


Waktu itu tidak ada seorang pun datang berdoa, mungkin udah selesai jam ibadahnya atau apa, yang pasti cuma aku sendiri di dalamnya. Setelah duduk sebentar di teras klenteng (ada tempat duduk nyamannya) aku udah niat masuk ke dalam, mau foto lilin-lilinnya juga, mau bedakan ukurannya, apa lebih besar dari Ban hin Kiong? 

Pas mau masuk di pintunya, eh udah ditegur. 


stt shttt…” suaranya datang dari arah belakang, di patung-patung tadi. Sontak aku balik badan dan pasang mata. 


Ternyata sejak tadi ada Om-om yang mengawasi gerak-gerik ku dari lantai dua sebuah gedung sekretariat. 
Yaelah Om.

“gak bisa masuk ya om?” tanya ku polos.

Tanpa jawab, tapi menggeleng, aku  sudah tau maksudnya. Meski agak berat hati ninggalin klentengnya, tapi sebelum pergi sempat bilang Thanks sama patung-patung penjaganya.
Thank you so much for your hospitality.



Lukisan ini dibuat di sepanjang dinding (sebelah kiri) klenteng
 
Semacam kisah dari Kitab Suci

Perjalanan aku lanjutkan ke lokasi Event Inkulturasi di Tugu Lilin. Sore itu dengan langit cerah, ternyata Tugu Lilin sudah hampir sesak sama warga yang diundang nonton.
Ada panggung besar yang dibangun di belakang Tugu Lilin.

Tugu Lili, oke ternyata langitnya tidak terlalu cerah


Acara sudah dimulai sejak siang hari, karena pas sampai, aku sudah melewatkan pertunjukan Kung Fu, Tari Maengket, dan tarian Masamper.

Berdiri lumayan berdesak-desakkan, aku masih sempat menonton Barongsai dan pertunjukan musik dari Umat Tri Dharma (gk tau nama pertunjukannya). Sayangnya karena handphone ku tanpa terduga habis memory, jadi tidak sempat ambil gambarnya. 

Di acara ini juga di undang khusus tourist-tourist dari Tiongkok yang dijamu dengan sangat baik oleh panitia. Selain host bahasa Manado, ada translator bahasa Mandarin, jadi suasananya benar-benar unik.
Bertemakan Inkulturasi, jadi event yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata ini menyajikan beberapa tarian adat khas Minahasa, Sanger dan Tiongkok.  

Aku sempat juga menonton Tarian Perang Kabasaran.



Tarian ini menurut yang ku dengar dari Host, memang di ciptakan dahulu kala oleh orang Minahasa dengan maksud untuk berperang. Tarian ini sekarang jadi ikon pariwisata Sulawesi Utara, dan sudah sering muncul di tayangan budaya di TV Nasional. Meski tergolong ekstrim, karena penarinya membawa golok tajam (asli) keliling arena, sehingga penonton sebaiknya jangan terlalu dekat. Tetapi tarian Kabasaran mempunyai gerakan-gerakan yang sangat khas dan unik. Ada pemimpin tarian yang mengatur ritme gerakan.

Beberapa kali (atau memang bagian dari tarian) penari-penari dalam arena memperlihatkan gesture ‘Marah’ ke arah penonton sambil mengibas-ngibaskan goloknya. Beberapa penonton ada yang kaget dan lari (wkwkw)



Ada juga tarian khas Minahasa yaitu Tari Katrili. Kali ini penarinya adalah anak-anak sekolah dasar sampai menengah atas dengan kostum ala Nyong dan Noni Belanda. Pokoknya lucu dan seperti tarian kolosal indah untuk ditonton. 

Sehabis Tari Katrili ada pertunjukan Musik Bambu, dan setelahnya aku sudah tidak tau lagi, karena rasanya sudah waktunya pulang. Meskipun kawasan pantai di kawasan Boulevard dan Marina Plaza sangat menggoda di sore hari, tapi waktu ku sudah cukup.  Aku pulang jam 6 sore.

Oh ya, pengalaman yang aku dapat di akhir pekan ini sangat menyenangkan. Satu yang tidak akan ku lupa lagi adalah Jangan Lupa Sediakan Memory untuk Foto.

-

Menurut informasi yang ku baca, nantinya perayaan Cap Go Meh atau Toa Pe Kiong akan di laksanakan tanggal 11 Februari (15 hari setelah Imlek) di lokasi yang sama, yaitu China Town. Katanya event yang terkenal akan parade kendaraan hias nya ini akan lebih meriah tahun ini.
Makanya aku sudah lingkari tanggal tersebut, gk mau ketinggalan hehe.


Sebagai salah satu Travel Resolution ku tahun ini, akhirnya bisa juga jalan-jalan ke China Town dan untuk pertama kalinya masuk ke Klenteng. 

Anyway, Selamat Tahun Baru Imlek bagi yang merayakannya. Semoga keberhasilan dan keberkahan selalu menyertai kita semua di Tahun 2017. Semoga tahun ini jadi tahun terbaik kita!


Gong Xi Fa Cai, Gong Xi Fa Cai
That’s all, Thanks for reading. See you.
BS

Bagaimana kisah perayaan Imlek di kota kalian? Tinggalkan komentar di bawah ya :)





14 comments:

  1. Ah !
    Aku dari dulu selalu suka budaya China,
    segala kultur tentang China selalu menarik !

    Tapi yang unik dari acara ini juga ada campur budaya Daerah asal Indonesianya!

    Waah! jadi pengen liat langsung keramaian di sana :(
    Andai waktu itu aku bisa ke Manado nonton imlek bareng kang Bima.

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih ada kesempatan kang, apalagi tiap tahun imlek di manado pasti ramai.

      Delete
  2. Di kotaku juga ada kelenteng mas, tapi perayaan imlek tahun ini aku gak menyaksikan pertunjukan barongsai di kelenteng. Temen SMA ku juga ada yang ikut jadi anggota Barongsai.

    Dulu aku juga pernah masuk kelenteng dan suasananya emng seperti di Cina, hehe

    Ya masak mau masuk kelenteng harus bayar tiket sih mas, wah dilihat dari foto-fotonya ramai sekali ya, gak seramai di sini mungkin antusias warganya yang beda hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sering pelupaan, klenteng bukan hanya tempat ibadah, tapi nuansanya yang khas bisa jadi objek wisata religius.

      Iya, antusias warga di manado aku akui sangat tinggi.

      Delete
  3. Angpao angpao.....hehe

    Halo bima lama kita tak berjumpa....hehe. Ngomongin masalah imlek, aku nggk ikutan. Soalnya dilampung nggk ada (aku nggk nemu). Yha.....lumayan kan kamu bisa dapet pengalaman tentang kebudayaan....hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. sayangnya gk kebagian angpao hadehh..

      halo juga Attar. bukannya di Lampung ada etnis tionghoa juga ya?

      Delete
  4. Wah, meriah sekali ya perayaan imlek di Manado. Kalo di daerahku sendiri aku kurang tahu. Kayaknya gak semeriah ini deh, walau banyak juga warga tionghoa di daerahku.

    ReplyDelete
  5. Kalo gue pribadi, pas Imlek gue habiskan buat tidur sih. Tapi dua tahun lalu, di Solo juga perayaan Imlek nya bisa dibilang sangat meriah. Disamping memang banyaknya warga keturunan Tionghoa juga. Tapi saya kira perayaan imlek di Manado dibandingkan disini masih sangat meriah disana kali ya. Sampe diadakan tarian-tarian nya juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tidur emang enak, apalagi pas musim hujan. tapi datang ke acara kebudayaan tionghoa asik loh gan.

      Mungkin kebetulan banyak turis dari tiongkok yang datang, jadi pemkot bikin lebih meriah.

      Delete
  6. Wah, keren ya. Serasa di china beneran. Disana kayaknya emang lekat banget ya budaya tiongkoknya di banding daerah yang lain yg ada di Indonesia.

    Btw, meski pake kamera ponsel, menurut gue anglenya udah cukup pas untuk mendokumentasikan sesuatu hal menjadi lebih enak dan menarik untuk di pandang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. apalagi pas masuk klentengnya, haduhh serasa ada di tiongkok.

      wah iya nih, cuma pake kamera ponsel. makasih, senang bisa melihat komentarnya (:

      Delete
  7. Imlek di Medan keren juga kok..
    Enggak semeriah di sana sih sepertinya..

    Plus fakta kalo gua juga turut merayakan..

    ReplyDelete
  8. BAPAK. SUGITO SAL MEDAN

    Terima kasih KH.Fhatulla Harun atas bantuan angka
    Ritual putih nya …Angka Anda Tembus 100%…kami yang udah kemana-mana
    mencari angka yang mantap selalu gak ada hasilnya…sampai- sampai
    hutang malah menumpuk…tanpa sengaja seorang teman lagi cari nomer jitu di internet…
    Kok ketemu alamat KH.Fhatulla Harun..Saya coba beli paket 2D ternyata tembus…
    dan akhirnya kami pun membeli paket 4D…Bagai di sambar Petir.
    Ternyata Angka Ritual Ghoib KH.Fhatulla Harun Ternyata Tembus..
    Buktikan aja sendiri saudara…Terima kasih KH.Fhatulla Harun

    klik=> RITUAL TOGEL PUTIH

    ReplyDelete